Lukman, S.Ag., M.Pd. Dosen Metodologi Penelitian dan Teknologi Pendidikan Universitas Islam Indonesia
Lukman, S.Ag., M.Pd. Dosen Metodologi Penelitian dan Teknologi Pendidikan Universitas Islam Indonesia

PUASA SEBAGAI TIRAKAT 

Gajah Mada, pada abad 14, sebagaimana dalam serat Pararaton mengucapkan sumpah Palapa: “Jika telah menundukkan seluruh Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit, saya (baru akan) melepaskan puasa…". Panembahan Senopati pendiri Mataram di abad 16, dalam serat Wedhatama diceritakan juga sosok yang rajin berpuasa. Di abad 19, Ibu Nyai Halimah, ibunda KH. Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama, pernah berpuasa selama 4 tahun. Di abad 20, KH. Wahid Hasyim ayah dari KH. Abdurrahman Wahid pernah berpuasa selama 7 tahun. 

Sejarah membuktikan bahwa puasa dapat dijadikan sarana bagi kesuksesan masa depan seseorang, yang manfaatnya bisa menyebar ke lingkungannya, entah itu dalam skala kecil sebagai suatu kelompok atau skala besar sepeti bangsa dan negara. Sebagaimana Nabi Adam as. melaksanakan puasa 3 hari setiap bulan dalam rangka pertobatan. Nabi Musa as., pernah melakukan puasa 40 hari sebelum menerima wahyu di bukit Sinai. Nabi Daud as. melaksanakan puasa satu hari berpuasa dan satu hari berikutnya berbuka. Nabi Isa as. berpuasa ketika menyiapkan diri tampil di muka umum untuk menyatakan dirinya sebagai rasul. Nabi Muhammad Saw. melaksanakan berpuasa sunnah Senin dan Kamis serta 3 hari tengah bulan. 

Puasa memang sangat berhubungan dengan kemuliaan derajat seseorang di sisi Allah Swt., karena berpuasa sangat erat berkaitan dengan ketakwaan, dan takwa adalah derajat yang mulia di sisi Allah Swt. Allah Swt. berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalin berpuasa….agar kalian bertakwa.” (QS. 2:183). Orang yang bertakwa dalam ayat yang lain disebut sebagai pemilik derajat paling mulia: “Sesungguhnya orang yang paling mulia derajatnya di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian”. Pada titik inilah hubungan antara puasa dengan takwa dan kemuliaan sangat terlihat dan sangat kuat. 

Hubungan Puasa dengan Takwa  

Hubungan puasa dan takwa dapat dikategorikan menjadi 5, sebagaimana berikut: (1) Hubungan yang Sangat Lemah; (2) Hubungan yang Lemah; (3) Hubungan yang Sedang; (4) Hubungan yang Kuat; (5) Hubungan yang Sangat Kuat. Semakin tinggi kesungguhan dalam berpuasa semakin tinggi ketakwaan seseorang. Semakin lemah kesungguhan seseorang dalam berpuasa, maka semakin lemah ketakwaan seseorang. 

Aspek kesungguhan bisa dilihat melalui hakikat aturan lahir dan batin berpuasa, yaitu: (1) Menjaga mulut, baik yang masuk maupun keluar. Yang masuk seperti makanan halal dan thoyyib, sedang yang keluar adalah ucapan yang diridloi Allah SWT; (2) Menjaga mata dan telingga dari hal-hal yang tidak diridloi oleh Allah SWT; (3) Mengendalikan keinginan dari keinginan yang terpandu khayali yang tidak diridloi Allah SWT; (4) Menjaga gerak jiwa agar tetap fokus pada ihsan; (5) Kesungguhan bertadarrus dan tafakkur meningkatkan kualitas pemahaman dan merformulasikan hasil pengalaman beribadah; (6) Terus melaksanakan kewajibannya baik sebagai pribadi, anggota keluarga, profesi, ataupun bernegara. 

Kesungguhan berpuasa adalah memahami dan internalisasi nilai-nilai yang ada dalam puasa adalah sebagai mata latih atau mata pelajaran dalam peningkatan kualitas pribadi takwa. Oleh karenanya nilai-nilai yang terinternalisasi dalam diri selama berpuasa harus dipertahankan menjadi nilai-nilai yang semakin mendalam dan kuat dalam diri, walaupun masa berpuasa telah selesai. 

Gerak dinamis peningkatan ini akan terus berjalan karena kewajiban berpuasa akan terulang. Dalam konteks seperti ini ketakwaan kan bertambah semakin hakiki dan semakin kuat atau disebut sebenar-benarnya takwa. Sebagaimana firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. 3:102). 

Ilustrasi atas hubungan puasa sebagai mata latih atau mata pelajaran dengan ketakwaan, dan kemuliaan, dapat dilihat dalam diagram yang terlampir di link https://s.id/puasatakwamulia 

Puasa, Takwa, dan Rahmah 

Kemuliaan ahli puasa adalah karena puasanya mengantarkannya menjadi pribadi yang bertakwa, yaitu yang menyelenggarakan gerak hidupnya sebagai wujud menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah Swt. Perintah dan larangan ini pasti akan menuju rahmatan lil ‘alamin, karena Rasulullah Saw. sebagai penghulu makhluk tidak diutus menjadi Rasul kecuali menjadi rahmat bagi alam semesta. Hal ini tersimpul dalam kalimat sederhan bahwa pribadi yang takwa adalah pribadi yang rahmatan lil ‘alamin. 

Pribadi yang bertakwa atau muttakin akan bersikap ke lingkungannya sebagai pribadi yang kasih sayang, peduli, simpatik, empatik, membebaskan, motivator, dinamisator, mengayomi baik itu kepada sesama manusia atau kepada makhluk yang lainnya. Dalam kondisi seperti ini siapapun akan senang dan nyaman dengan pribadi seperti ini, kecuali orang-orang yang hasud, iri dan dengki.  

Puasa dan Pendidikan Mental Generasi Emas 2045 

Menjadi menarik dinamika puasa, takwa, rahmah, mulia sebagaimana di atas jika dikaitkan dengan Visi Generasi Emas 2045. Generasi saat ini yang berumur 20 tahun, pada tahun 2045 adalah generasi produktif yang akan menjadi tiang dan sekaligus penggerak bangsa dan negara. Membanyangkan generasi yang kokoh dan tangguh karena ihsannya, selalu di hadapan pantauan Allah SWT, dan tidak mudah tergoda gebyar dunia karena terlatih mengendalikan diri, dan santun karena rahmah yang terpancar dari kepribadiannya. 

Di mulai dari manakah gerakan ini bisa berjalan? Dengan pendidikan kesadaran untuk berpuasa, bukan instruksi berpuasa sebuah instansi, maupun kontes berpuasa berhadiah. Walauupun dalam pendidikan masih diperlukan instruksi dan hadiah, namun harus berlanjut menjadi kesadaran. Hal ini dapat dilakukan secara massal dengan dititipkan melalui pembelajaran pendidikan agama, melalui para guru, ustadz, kyai, ulama, orang tua, dan Anda! 

Wallohu A’lam. 

------------------
Penulis adalah Dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI)  
Jurusan Studi Islam, Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.