Uji Coba Drone Canggih Karya Dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Dr. Ir. Wahono, MT. (Foto istimewa)
Uji Coba Drone Canggih Karya Dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Dr. Ir. Wahono, MT. (Foto istimewa)

Di era Revolusi Industri 4.0 ini, pertanian Indonesia tidak akan mungkin bisa bersaing dengan negara lain tanpa menggunakan pertanian modern. Maka dari itu, ketersediaan inovasi teknologi pertanian menjadi salah satu kuncinya.

Dengan adanya inovasi dalam pertanian, peningkatan kesejahteraan petani pun bisa lebih meningkat. Selain itu juga menarik minat generasi muda dalam bidang ini.

Kondisi ini membuat Dosen Fakultas Pertanian Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr Ir Wahono MT menciptakan 3 jenis pesawat tanpa awak (drone) berteknologi canggih untuk mendukung dunia pertanian Indonesia. 

Pertama ialah Motodoro MX berjenis Flying Wing dengan kemampuan yang lebih efisien karena sekali terbang bisa memetakan sekitar 700 hektar. Pesawat kedua, Farm Mapper yang memiliki kemampuan terbang serta landing vertikal dengan daya jangkau 400-500 hektar.

Ketiga, Spraying Robot Indonesia (SRI) yang berfungsi untuk aplikasi pupuk dan pestisida. "Aplikasi untuk pupuk dan pestisida oleh SRI ini smart, karena ia hanya menyemprot pada tempat yang membutuhkan dan dalam jumlah yang diperlukan dengan kapasitas 23 liter dan jangkauan 10 hektar dalam 1 jam. Sedangkan data tanaman yang membutuhkan pupuk serta pestisida itu kita dapatkan dari Farm Mapper maupun Motodoro MX," papar Wahono.

Selain itu, SRI juga memiliki sistem kerja yang mewakili mata yang berfungsi melakukan pemilahan atas tanaman yang sehat dan yang berpenyakit. Karena SRI memiliki sensor yang lebih presisi, lebih akurat secara kuantitatif. "Jadi dari sensor itu bisa menganalisis tingkat kesehatan tanaman, sehingga lebih objektif. Tanpa perlu turun kelapangan," ungkap Wahono.

Dikembangkannya model pertanian pintar melalui 3 jenis drone ini, Wahono berharap mampu menyelesaikan berbagai persoalan pertanian di Indonesia. "Lewat model pertanian ini kita bisa meningkatkan produktifitas tanaman serta mengefisiensi biaya," tandasnya.

Prof Dr Muhajir Effendy MAP selaku Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan turut mengapresiasi temuan ini. "Saya memang menugasi Deputi VII untuk mencari teknologi, terutama yang dibutuhkan untuk pembangunan pedesaan. Salah satu aspek yang sangat menonjol dari desa kan pertanian. Saya malah nggak ngira kalau di UMM ini justru sudah relatif advanced dalam pengembangan drone untuk digunakan di sektor pertanian," katanya.

Muhadjir mengaku sangat senang dengan penemuan tersebut. Drone-drone tersebut tinggal digunakan secara betul di dunia luas agar bisa diadopsi oleh para petani, karena kecepatannya bisa berkali-kali lipat dibandingkan dengan tenaga manual.

"Ini tinggal mendesiminasi saya rasa. Jadi tinggal bagaimana digunakan betul secara luas, diadopsi oleh para petani, terutama di sektor pedesaan nanti. Karena itu akan saya pelajari dan insya Allah akan saya laporkan juga kepada Presiden langsung," timpalnya.

Sejak awal tahun 2017, Farm Mapper maupun Motodoro MX telah diproduksi massal dengan kapasitas produksi sebanyak 40 buah tiap tahunnya. Harga dimulai dari 62 juta hingga 250 juta rupiah. Sementara Drone SRI juga akan diproduksi masal setelah selesai tahap pengembangan.

"Kalau harganya relatif mahal kan ketika digunakan kan juga tidak harus menjadi milik pribadi tapi bisa milik koperasi. Kalau desa-desa Milik Badan Usaha Milik Desa (BUMD). Bahkan bisa beberapa BUMD berkolaborasi untuk menggunakan secara bersama-sama. Kan ini kecepatannya beribu-ribu kali lipat dibanding dengan manual/manusia," pungkasnya.