Selebrasi pemain Perseta, Zidan (9) pasca melesakan gol ke gawang Pro Direct Jakarta dengan kemenangan 2-0 pada Jum'at (29/11) lalu (foto : Joko Pramono/ Jatim Times)
Selebrasi pemain Perseta, Zidan (9) pasca melesakan gol ke gawang Pro Direct Jakarta dengan kemenangan 2-0 pada Jum'at (29/11) lalu (foto : Joko Pramono/ Jatim Times)

Manager Perseta Tulungagung, Ahmad Baharudin akui bantuan keuangan dari Pemkab untuk kesebelasanya terbilang minim. Bahkan dirinya dan pengurus lainya harus merogoh kocek pribadi untuk keberlangsungan squad kebanggaan Tulungagung ini.

"Saya sebagai Manager memberikan anggaran (pribadi) untuk membiayai Perseta yang penting Perseta tetap eksis, masalah biaya kita perhitungkan nanti setelah kompetisi," ujar pria yang juga menjadi anggota DPRD Tulungagung tersebut beberapa waktu lalu.

Total bantuan yang diberikan oleh Asprov Jatim untuk pelaksanaan kompetisi ini sebesar 500 juta, 200 juta diantaranya dianggarkan untuk Perseta, sedang sisanya untuk kegiatan lainya yang belum bisa dijelaskan secara rinci oleh Ahmad Baharudin.

Disinggung kekurangan untuk pembiayaan Perseta,  Ahmad Baharudin mengaku belum mengetahuinya secara pasti. Pihaknya baru akan menghitungnya setelah selesainya pertandingan.

"Belum tahu, yang penting kita biayai dulu nanti kita hitung," terangnya.

Untuk menutupi kekurangan itu, pihaknya akan menggandeng sponsor, terutama dari pengurus Perseta, pihaknya juga sedang berusaha mencari sponsor swasta, meski hingga saat ini belum ada dari pihak swasta yng tertarik membiayai Perseta.

"Di Tulungagung pengusaha yang tertarik membiayai Perseta belum begitu banyak," tuturnya lebih lanjut.

Disinggung tentang hasil penjualan tiket selama Perseta bertanding, dirinya menjelaskan hasil penjualan tiket dipergunakan untuk gaji panitia pelaksana dan perawatan lapangan untuk pertandingan. Meski harus diakui, sarana pendukung di lapangan Rejoagung masih jauh dari kata layak.

Toilet misalnya, air masih sering tidak mengalir, sehingga bau pesing sering tercium dari toilet,  belum lagi kondisi toilet yang gelap tanpa penerangan. "Penjualan tiket itu untuk membiayai pelaksanaan ini," jelas Ahmad Baharudin.

Bahkan untuk konsumsi keamanan berupa nasi kotak, pihaknya meminta bantuan dari Pemkab untuk penyediaanya. "Konsumsi untuk pengamanan kita minta bantuan ke Bagian Umum (Pemkab Tulungagung)," pungkasnya.