Pawestri 'Galuh' Budi Astuti, jagoan Taekwondo dari Blitar.(Foto :  Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Pawestri 'Galuh' Budi Astuti, jagoan Taekwondo dari Blitar.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

Berprestasi di dunia olahraga dan pendidikan pada masa-masa sekolah merupakan suatu hal yang tidak mudah. Bisa dibilang tidak banyak anak usia pelajar yang mencetak prestasi di dua bidang itu karena jadwal sekolah di era saat ini begitu padat.

Namun tetap saja ada anak usia pelajar yang tergila-gila dengan olahraga dan menorehkan prestasi gemilang di berbagai ajang kompetisi. Salah satunya Pawestri Luhur Budi Astuti, gadis kelahiran Blitar, 25 April 2006 ini menggeluti olahraga Taekwondo sejak umur 7 tahun dan telah meraih prestasi nasional.

Sekilas mungkin tak ada yang menyangka jika remaja yang akrab dipanggil Galuh merupakan atlet Taekwondo profesional. Dengan parasnya yang cantik dan berperawakan kalem, sepertinya dia lebih cocok menekuni modelling. Keluarga menjadi pendorong anak kedua dari dua bersaudara ini terjun ke olahraga Taekwondo.

“Saya yang mendorong dia (Pawestri) untuk bisa beladiri. Karena orang tua tidak bisa seterusnya mengawasi, menjaga. Kakaknya laki-laki dulu juga ikut Taekwondo, tapi dia lebih menonjol. Bagi saya anak baik laki maupun perempuan harus bisa beladiri untuk menjaga dirinya,” ungkap Tutik Anjar Paweni, ibunda Galuh kepada BLITARTIMES, Jumat (29/11/2019).

Galuh mengaku sangat menikmati berlatih Taekwondo sejak duduk di kelas 1 SDI Kardina Masa Kota Blitar. Latihan demi latihan dia lakukan hingga akhirnya mengikuti kejuaraan pertamanya yakni SMATARDA Cup Open Tournament Jatim 2014. Hebatnya di ajang tersebut Galuh sukses meraih juara 1 Under 34 kg putri Pra Junior A. 

“Kejuaraan pertama ini paling berkesan bagi saya. Saat itu lawan saya badannya besar, sempat demam panggung juga. Tapi rasa demam panggung itu hilang saat saya masuk matras,” ujar Galuh.

Prestasi demi prestasi terus diukirnya, diantaranya Juara 1 Kelas 34 kg Pra Kadet B Putri pada Kejuaraan Provinsi Antar Pelajar se Jawa Timur, Juara 1 Pra Kodet C Under 41 Putri pada Kejuaraan Provinsi Antar Pelajar se Jawa Timur 2016, dan Juara 1 Gyeorugi Under 47 Kadet Putri pada Kejuaraan Antar Pelajar Taekwondo Indonesia Provinsi Jawa Timur 2019. 

“Dia ikut kejuaraan sejak kelas 2 SD. Total dia sudah mengikuti 14 kejuaraan di tingkat provinsi dan nasional, dia mendapat juara III itu Cuma 2 kali, selebihnya juara I,” papar Tutik.

Kedisiplinan menjadi kunci utama bagi Galuh dalam berprestasi. Dalam satu pekan, dirinya latihan Taekwondo 4 kali dalam seminggu. Tak hanya itu, menjadi atlet Taekwondo juga mengharuskan Galuh menjaga berat badannya, diapun aktif melakukan diet.

“Pernah menurunkan 3 kg dalam dua minggu. Tidak boleh makan nasi, bolehnya makan roti gandum dan tidak boleh makan gorengan. Makan nasinya dikit, itu pun siang,” jelas dia.

Prestasi gemilang di dunia olahraga membuat Galuh diterima sekolah di SMPN 3 Kota Blitar melalui jalur prestasi. Kedepan dirinya ingin mengharumkan nama sekolahnya di berbagai kejuaraan Taekwondo yang diikutinya. Terdekat, Galuh akan berlagara di Turnamen Taekwondo Nasional di UPN Surabaya pada 27 hingga 29 Desember 2019.

Kemampuan Galuh di Taekwondo tak diragukan lagi. Kini di usianya yang masih 14 tahun dia sudah tingkatan sabuk hitam. Namun karena belum usia 17 tahun, dia harus menggunakan sabuk hitam merah. Sabuk hitam baru dia kenakan nanti ketika usia 17 tahun.

Anehnya, meski dianggap sebagai atlet berbakat milik Blitar, Galuh mengaku tidak memiliki cita-cita sebagai atlet Taekwondo nasional. Dirinya bercita-cita sebagai Dokter Gigi dan Paskribraka Nasional.

“Bagi dia Taekwondo itu seperti bukan beban, dia mengangapnya sebagai hobi dan prestasi itu sebagai bonus. Cita-cita panjangnya ingin jadi Dokter Gigi dan paling dekat ingin jadi Paskibraka Nasional pembawa baki. Jadi Dokter Gigi, dia pernah bilang ke saya sering lihat ayahnya ke Dokter  Gigi, kalau dia jadi dokter kan gak bayar, lucu sih alasanya. Kalau Paskibraka, Jadi dari kelas IV SD dia kalau upacara oleh gurunya dijadikan pembawa bendera, ini kebetulan di SMPN 3 seperti itu juga,” lanjut Tutik.

Tak hanya mahir Taekwondo, putri pasangan Kukuh Basuki dan Tutik Anjar Paweni ini juga memiliki prestasi dan bakat lain di luar olahraga asal Korea ini. Di tahun 2017, Galuh dinobatkan sebagai Diajeng Cilik Berbakat 2017 yang diadakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Blitar, di ajang ini dia mewakili sekolahnya yakni SDI Kardina Masa.

Bakal lainnya, di sekolahnya Galuh juga dikenal aktif berkesenian diantaranya seni tari, musik dan dance K-Pop. Kini, selain aktif latihan Taekwondo kini Galuh juga ikut les gitar. Hebatnya, banyaknya kesibukan di luar sekolah justru membuat prestasi akademiknya melejit.

“Untuk akademik sejak SD, dia selalu masuk ranking 3 besar. Kalau SMP kan belum, ini kan baru masuk,” tandas Tutik.(*)